Jakarta – Wacana kerja dari rumah alias WFH lagi ramai dibahas. Penyebabnya nggak lain karena situasi perang di Timur Tengah, terutama setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Pemerintah pusat sampai daerah mulai mempertimbangkan WFH buat ngirit energi, khususnya BBM. Soalnya, pasokan minyak dunia lagi terganggu gara-gara blokade di Selat Hormuz, dan harga minyak pun terus naik sejak konflik memanas akhir Februari lalu.
Beberapa daerah di Indonesia bahkan sudah siap, bahkan ada yang mulai menerapkan WFH.
DKI Jakarta siap ikut arahan pusat
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bilang Pemprov DKI siap mengikuti arahan pemerintah pusat soal kebijakan ini.
Menurut dia, konflik yang berkepanjangan di Iran pasti bakal berdampak ke pasokan energi, baik gas maupun BBM. Jadi, langkah penghematan seperti WFH dianggap perlu disiapkan dari sekarang.
Tangerang siapkan WFH 50% ASN
Sementara itu di Tangerang, Bupati Maesyal Rasyid juga lagi menyiapkan aturan teknis buat WFH.
Rencananya, sekitar 50% ASN bakal kerja dari rumah, terutama yang nggak berhubungan langsung dengan pelayanan publik. Tapi tetap ada aturan—pegawai WFH harus absen dua kali, pagi dan sore.
Untuk yang tugasnya langsung melayani masyarakat, seperti di kecamatan, kelurahan, sampai dinas-dinas layanan, tetap masuk seperti biasa (100%).
Jawa Timur pilih WFH tiap Rabu
Beda lagi dengan Jawa Timur. Gubernurnya, Khofifah Indar Parawansa, memutuskan WFH cukup satu hari dalam seminggu, yaitu setiap Rabu.
Tujuannya sama: menekan konsumsi BBM.
Menariknya, Khofifah sengaja nggak pilih hari Jumat. Alasannya, biar nggak jadi “long weekend” yang malah bikin orang bepergian lebih banyak dan ujung-ujungnya konsumsi BBM malah naik.
Jadi, di tengah situasi global yang masih nggak pasti, WFH mulai dilirik lagi sebagai salah satu cara cepat buat hemat energi.
